Keanekaragaman Part 1.
Sadari.
Kalau kamu benar menghormati pluralism.
Semesta ini isinya pluralisme semua.
Galaksi Bimasakti itu pluralism.
Tata surya itu pluralism.
Matahari itu pluralism.
Bumi itu pluralism.
Keyakinan bahwa Bumi bulat itu pluralism.
Keyakinan bahwa bumi datar itu pluralism.
Ada tanah, ada air, ada udara, ada batu, ada logam, itu pluralism.
Ada darat, ada laut, ada sungai, ada danau, ada rawa, ada jurang, ada gunung, ada padang pasir, ada goa, itu pluralism.
Ada manusia, ada binatang, ada tumbuhan, ada jin, ada setan, itu pluralism.
Ada hidup, ada mati, itu pluralism.
Ada surga, ada neraka, atau tidak ada keduanya, itu pluralism.
Silakan komentar.
Saya ingin tahu pendapatmu:
Apakah langit benar-benar ada?
Keanekaragaman part 2.
Boleh.
Kalau kamu menghargai pluralism.
Sadari.
Kamu boleh suka Matahari karena matahari membuat bumi ‘hidup’, atau kamu boleh benci matahari karena menghitamkan kulitmu, itu pluralism.
Kamu boleh suka Bintang-bintang malam karena keidahannya, atau kamu boleh benci Mars karena warnanya merah, itu pluralism.
Kamu boleh suka mendaki gunung kerana tantangannya, atau kamu boleh tidak suka karena kamu anggap tak ada gunanya, itu pluralism.
Kamu boleh suka menyelam karena indah terumbu karang, atau kamu boleh benci goa karena kelelawar yang menghuninya, itu pluralism.
Kamu boleh suka tinggal di desa, atau kamu juga boleh suka tinggal di kota, itu pluralism.
Kalau kamu seorang lelaki, kamu boleh menjadi lelaki, atau kamu boleh memutuskan mengganti kelaminmu. Kamu boleh tertarik pada wanita, kamu boleh tertarik sesame lelaki, atau kamu juga boleh bergairah pada keduanya, itu pluralism.
Kamu boleh sekolah karena kamu percaya sekolah baik untukmu, atau kamu boleh tak sekolah karena menurutmu sekolah bukan jaminan masa depanmu, bahkan jika kamu sekolah hanya karena kamu masih malas bekerja dan masih hobi ‘disangoni’ juga boleh, itu pluralism.
Kamu boleh memilih guru, pedagang, pegawai, wirausahawan, politikus, perampok, pembunuh bayaran, pembantu, pelacur, dokter, sopir, dukun, atau apapun sebagai profesimu. itu pluralism.
Kamu Hitam, cantik, pincang, mrongos, montok, bahenol, sehat, penyakitan, keriting, juling, tuli, atletis, bungkuk, gemuk, albino, itu pluralism.
Kamu Suka marah, suka menangis, suka bercanda, suka berkelahi, , suka berbohong, suka menghina, suka menasehati, suka menjilat, suka melamun, suka memfitnah, suka menolong, murah senyum, sok tahu, munafik, alim, rajin, malas, itu pluralism.
Kamu suka sok gaul, sok alim, sok kaya, sok cool, sok tahu, sok professional, sok setia kawan, sok bijak, sok agamis, sok nasionalis, sok cuek, sok normal, sok sakit, atau sok pluralis, terserah.itu pluralism.
Kamu boleh memilih Islam sebagai agamamu karena kamu yakin akan ke-Esa-an Allah dan Dialah yang menciptamu dan seluruh semesta, atau karena menurutmu itu yang paling benar dan yang lain salah, atau karena kamu lahir di tengah keluarga pemeluk Islam, atau karena pacarmu beragama Islam, kamu boleh. Itu pluralism.
Kamu boleh percaya Tuhan ada, kamu juga boleh tidak percaya tuhan tidak ada, itu pluralism.
silahkan komentar.
Saya ingin tahu pendapatmu:
Siapa yang hidup lebih dulu; Adam dan Hawa atau manusia purba?
Keanekaragaman part 3
In my opinion.
Aku bukan seseorang yang menghormati pluralism.
Namun demikian, sebagai bagian dari pluralism di semesta ini, aku boleh memilih untuk menulis tentang pluralism lewat note di facebook meski boleh saja aku memilih untuk menulisnya dalam buku pribadiku, blog-ku, catatan kuliah, membuat selebaran, lewat bulletin, lewat harian, mengungkapkannya secara lisan, tak usah mengungkapkannya sama sekali atau bahkan tak usah memikirkannya sama sekali. Seperti biasa, itu pluralism.
In my opinion.
Jika demikian, semestinya tak ada lagi muncul kata-kata “Ih, apaan sih? Aneh!”.
Semestinya tak ada lagi muncul kata-kata “Ih, nggilani!”.
Semestinya tak ada lagi muncul kata-kata “Ih, njijiki!”.
Semestinya tak ada lagi muncul kata-kata “Wah, ga bener kui. Ayo kita berantas!”.
Singa dapat membunuh rusa. Singa juga dapat membunuh zebra, kelinci, jerapah, kerbau, unta, domba, kanguru, kudanil, badak, musang, babi, ayam, bahkan gajah yang besar. Makhluk cerdas manusia pun bisa saja mati oleh singa. Rusa, zebra, kelinci, jerapah, kerbau, unta, domba, kanguru, kudanil, badak, musang, babi, ayam, gajah, juga manusia boleh saja merasa terancam dengan keberadaan singa. Apalagi jika populasi singa semakin banyak, tentu ancaman itu juga semakin besar. Namun alangkah tidak bijak bila singa harus dimusnahkan meski dengan alasan ‘mengorbankan yang satu daripada kehilangan yang banyak’.
Taufik, seorang temanku mengatakan sesuatu setelah membaca note ‘Keanekaragaman part 2’. Kukenal ia sebagai seseorang yang berkarakter dan selalu optimis akan apapun. Ia mengatakan “Kalau tak ada Kurawa, tak akan ada Pandawa”. Aku kurang sependapat dengannya. Menurutku Pandawa tetap ada walau Kurawa tak pernah ada. Hanya saja mungkin Pandawa tidak menjadi pahlawan dan akan menjadi tokoh yang biasa saja karena tidak berjuang melawan kedhaliman (dalam hal ini Kurawa). Meski kurang sependapat, aku tak menyeretnya ke arah manapun. Aku justru dalam hati berterimakasih karena ia telah membaca note-ku dan memberi komentar seperti yang kuminta lewat sms. Taufik tahu ia tidak salah, aku pun tahu aku tidak salah. Kami hanya berbeda persepsi saja, kami hanya menjalankan peran sebagai bagian dari semesta yang plural.
In my opinion.
Semestinya seseorang tak memberantas sesuatu hanya karena diangap berbahaya.
Semestinya seseorang tak membenci sesuatu karena sesuatu itu bukanlah sesuatu yang ‘Gue Banget’.
Semestinya seseorang tak menyukai sesuatu hanya karena tak menguntungkan.
Tak semestinya seseorang mendekati sesuatu hanya karena menyukainya.
Tak semestinya seseorang menilai sesuatu buruk hanya karena menganggapnya salah.
Tak semestinya seseorang mengikuti sesuatu hanya karena menganggapnya benar.
Tak semestinya seorang hakim menghukum tersangka hanya karena lebih percaya kepada jaksa.
Tak semestinya seseorang menganggap ‘X’ aneh hanya karena seluruh negeri menganggap ‘X’ aneh.
Karena jika apa yang kau tahu salah.
Jika apa yang kau dengar bohong.
Dan jika apa yang kau percaya berkhianat.
Kau hanya punya dirimu.
Namun sekali lagi, semesta menawarkan banyak pilihan.
Pilihan untuk mencintai, pilihan untuk membenci.
Semesta penuh dengan pilihan-pilihan kondisional.
Dan sekali lagi.
Aku bukan seseorang yang menghormati pluralism.
Just ‘In my opinion’.
Terimakasih.
Ngijo, Maret 2019